Melepaskan (Dan Memang Sudah Seharusnya)
"Mencari itu mudah, melepaskan adalah hal yang sulit, kecuali kamu cukup dewasa untuk bersikap"
Well, ini kata bokap yang kadang gua inget pas gua masih SMA, dan sekarang kata-kata itu terngiang lagi di telinga gua.
Kejadian gua sama dia pas Hari Selasa, merupakan sebuah hal yang cukup memalukan untuk gua yang punya reputasi "tinggi" (gua bisa bilang karena temen2 gua memandang gua begitu). Gua pun ga nyangka kejadian Hari Selasa merupakan salah satu pukulan dalam hidup gua. Hubungan gua sama doi pun langsung memburuk, jatuh ke titik terendah dalam hidup gua.
Setelah gua berpikir jernih, berusaha untuk memainkan logika dibandingkan perasaan, ditambah gua banyak baca website yang berbau2 hubungan, gua pun mendapatkan suatu kesimpulan yang bisa mengubah persepsi gua masalah cinta. Yaitu cinta gabisa dipaksain. Jelas hal ini mutlak. Gua pun kembali menerawang hubungan gua sama doi. Sebulan juga pendekatan. Yang menghasilkan suatu kesimpulan: PDKT gua gagal 100%. Kok gagal, padahal pendekatan yang gua pake udah bener? Jawabannya simpel, dia emang gak punya rasa sama gua (dan gatau sampe kapan).
Sebenernya ini masalah terdasar dalam prinsip suatu hubungan: sama-sama saling menyukai. Gimana ceritanya kalo cuman salah satu pihak yang suka sama lawan jenisnya. How come if only the boy like and love the girl. Itu bukan suatu hubungan. Itu hubungan sepihak namanya. Dan itu ga akan bertahan lama. Karena pacaran yang dipaksakan emang ga akan pernah bisa. Selamanya.
Mau cerita sedikit mengenai masalah ini. Gua dulu pas SMA kelas 2, pernah disukain sama anak cewek yang masih SMP kelas 3. Sebut aja si "A" (nama depannya emang A). si A ini padahal UDAH PUNYA COWOK dan dia naksir sama gue. Well, niat gua awalnya cuman mau jadiin temen dia doang sih dan ga ada rasa sama sekali. SAMA SEKALI. Tapi lama-lama dia pun gabetah sama pacarnya dan akhirnya karena kasian, kita pun menjalin hubungan setelah dia putus dari pacarnya. Dasarnya gua emang gasuka sama dia, gua ga pernah ketemu sama dia. Males aja bawaanya karena doi ga sesuai dengan kriteria gua. Pacaran pun cuman bertahan selama sebulan. Habis itu putus. Well gua seneng banget sih sebenernya. Asli dah ga bohong. Tapi kita tetep bertemen. Terus dia menjalin hubungan pacaran sama cowok lain. Ternyata dia nerima si cowok ini karena KASIAN. Dan si cowok ini anaknya freak and weird gt kata si dia. Dia pun masih sering chat gua dan ternyata dia masih belom bisa move on dari gua. Akhirnya yaudah dia main belakang sama gue. Sebenernya sih gua kasian sama si cowok. Dan akhirnya perselingkuhan selesai dalam waktu sebulan sama gue. Gua sih di chat2 ngomongnya "iya aku sayang kamu". Aslinya mah ga ada apa-apa. Hampa. Gua pun menyadari bahwasannya pacaran sama yang gak kita suka, meskipun DIPAKSAIN juga ga akan berjalan baik. Alias cuman pacaran karena status, selebihnya mah nol besar. Pernah sih pas dia punya pacar gua coba deketin. Cuman pengen tau aja dia masih ada rasa sama gue. Taunya masih ada sedikit. Yah daripada gua ngancurin hubungan orang, mending gua tinggalin dah kehidupan mereka berdua.
Dari situ pun gua mendapat pembelajaran. Percuma gua yang suka sama doi, tapi dianya gasuka. Karena cinta datengnya dari hati. Ga semudah ngomong nyatain cinta terus si cowok nemplok sama yang lain. Kecuali emang kalo si cowok nya bener2 ya. Kan bisa liat dari raut mukanya, sama hati nurani nya si cewek.
Jadi, pikiran gua adalah memang lebih baik gua melepaskan sebagai gebetan gua, biar dia nemu cowok yang sesuai dengan hati nuraninya dia sendiri. Cinta yang emang dari hatinya sendiri. Bukan karena suatu tekanan atau keterpaksaan. Dan memang sudah hati nurani gua untuk mundur. Jadi melupakan dia untuk jadi pacar gua memang sudah benar, dan memang sudah seharusnya.
Ada quotes dari Khalil Gibran yang selalu ada di pikiran gua. Dan ini juga yang gua omongin sama si doi:
"Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun.
Cinta adalah anak kecocokan dari jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan tercipta dalam hitungan tahun bahkan milenia.
Adios!
Well, ini kata bokap yang kadang gua inget pas gua masih SMA, dan sekarang kata-kata itu terngiang lagi di telinga gua.
Kejadian gua sama dia pas Hari Selasa, merupakan sebuah hal yang cukup memalukan untuk gua yang punya reputasi "tinggi" (gua bisa bilang karena temen2 gua memandang gua begitu). Gua pun ga nyangka kejadian Hari Selasa merupakan salah satu pukulan dalam hidup gua. Hubungan gua sama doi pun langsung memburuk, jatuh ke titik terendah dalam hidup gua.
Setelah gua berpikir jernih, berusaha untuk memainkan logika dibandingkan perasaan, ditambah gua banyak baca website yang berbau2 hubungan, gua pun mendapatkan suatu kesimpulan yang bisa mengubah persepsi gua masalah cinta. Yaitu cinta gabisa dipaksain. Jelas hal ini mutlak. Gua pun kembali menerawang hubungan gua sama doi. Sebulan juga pendekatan. Yang menghasilkan suatu kesimpulan: PDKT gua gagal 100%. Kok gagal, padahal pendekatan yang gua pake udah bener? Jawabannya simpel, dia emang gak punya rasa sama gua (dan gatau sampe kapan).
Sebenernya ini masalah terdasar dalam prinsip suatu hubungan: sama-sama saling menyukai. Gimana ceritanya kalo cuman salah satu pihak yang suka sama lawan jenisnya. How come if only the boy like and love the girl. Itu bukan suatu hubungan. Itu hubungan sepihak namanya. Dan itu ga akan bertahan lama. Karena pacaran yang dipaksakan emang ga akan pernah bisa. Selamanya.
Mau cerita sedikit mengenai masalah ini. Gua dulu pas SMA kelas 2, pernah disukain sama anak cewek yang masih SMP kelas 3. Sebut aja si "A" (nama depannya emang A). si A ini padahal UDAH PUNYA COWOK dan dia naksir sama gue. Well, niat gua awalnya cuman mau jadiin temen dia doang sih dan ga ada rasa sama sekali. SAMA SEKALI. Tapi lama-lama dia pun gabetah sama pacarnya dan akhirnya karena kasian, kita pun menjalin hubungan setelah dia putus dari pacarnya. Dasarnya gua emang gasuka sama dia, gua ga pernah ketemu sama dia. Males aja bawaanya karena doi ga sesuai dengan kriteria gua. Pacaran pun cuman bertahan selama sebulan. Habis itu putus. Well gua seneng banget sih sebenernya. Asli dah ga bohong. Tapi kita tetep bertemen. Terus dia menjalin hubungan pacaran sama cowok lain. Ternyata dia nerima si cowok ini karena KASIAN. Dan si cowok ini anaknya freak and weird gt kata si dia. Dia pun masih sering chat gua dan ternyata dia masih belom bisa move on dari gua. Akhirnya yaudah dia main belakang sama gue. Sebenernya sih gua kasian sama si cowok. Dan akhirnya perselingkuhan selesai dalam waktu sebulan sama gue. Gua sih di chat2 ngomongnya "iya aku sayang kamu". Aslinya mah ga ada apa-apa. Hampa. Gua pun menyadari bahwasannya pacaran sama yang gak kita suka, meskipun DIPAKSAIN juga ga akan berjalan baik. Alias cuman pacaran karena status, selebihnya mah nol besar. Pernah sih pas dia punya pacar gua coba deketin. Cuman pengen tau aja dia masih ada rasa sama gue. Taunya masih ada sedikit. Yah daripada gua ngancurin hubungan orang, mending gua tinggalin dah kehidupan mereka berdua.
Dari situ pun gua mendapat pembelajaran. Percuma gua yang suka sama doi, tapi dianya gasuka. Karena cinta datengnya dari hati. Ga semudah ngomong nyatain cinta terus si cowok nemplok sama yang lain. Kecuali emang kalo si cowok nya bener2 ya. Kan bisa liat dari raut mukanya, sama hati nurani nya si cewek.
Jadi, pikiran gua adalah memang lebih baik gua melepaskan sebagai gebetan gua, biar dia nemu cowok yang sesuai dengan hati nuraninya dia sendiri. Cinta yang emang dari hatinya sendiri. Bukan karena suatu tekanan atau keterpaksaan. Dan memang sudah hati nurani gua untuk mundur. Jadi melupakan dia untuk jadi pacar gua memang sudah benar, dan memang sudah seharusnya.
Ada quotes dari Khalil Gibran yang selalu ada di pikiran gua. Dan ini juga yang gua omongin sama si doi:
"Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun.
Cinta adalah anak kecocokan dari jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan tercipta dalam hitungan tahun bahkan milenia.
Adios!
Komentar
Posting Komentar