Hatikvah (Harapan)
Selalu aku menyanyikan lagu ini sebelum tidur.
Ayah bilang, lagu ini mengingatkan kita akan tanah asal kita.
Sedari kecil, aku selalu menyanyikan lagu ini.
Agar selalu ada harapan bisa kembali ke tanah yang dijanjikan Tuhan.
Hari berganti, tahun berganti.
Akupun memasuki masa remaja.
Dimana pola pikirku mulai kritis.
Apakah mungkin kita bisa kembali ke tanah yang dijanjikan?
Masa SMA dimana akupun mulai berhenti menyanyikan lagu ini.
Aku berdebat kepada Ayah, kenapa aku harus menyanyikan ini terus.
Terus menyanyi, terus berharap, namun tanpa ada kejelasan.
Apa kita bisa pulang ke tanah yang dijanjikan itu?
Terbersit rasa iri di hatiku,
Mereka yang berasal dari Amerika Serikat, dan Eropa.
Bisa melakukan emigrasi ke tanah yang dijanjikan tersebut.
Dan memulai hidup baru di tanah tersebut.
Sempat pula terjadi benturan di hatiku.
Apakah benar saya termasuk dari kaum tersebut.
Yang memperoleh hak hidup dan berpendapat.
Di tanah yang dijanjikan itu.
Terbersit rasa iri di hatiku,
Mereka yang berasal dari Amerika Serikat, dan Eropa.
Bisa melakukan emigrasi ke tanah yang dijanjikan tersebut.
Dan memulai hidup baru di tanah tersebut.
Sempat pula terjadi benturan di hatiku.
Apakah benar saya termasuk dari kaum tersebut.
Yang memperoleh hak hidup dan berpendapat.
Di tanah yang dijanjikan itu.
Namun aku tersadar, darah keturunanku tetap mengalir di tubuhku.
Identitas bangsa asli ku tidak bisa hilang begitu saja.
Aku bangga dengan membuka identitas asliku ke teman sejawat
Mereka kaget, namun tersadar bahwa inilah aku yang sebenarnya
Harapan tinggalah harapan.
Akupun mulai kembali menyanyikan lagu ini setelah mendapatkan jawabanya.
Aku, ayahku tersadar bahwa kita tidak akan bisa kembali ke tanah yang dijanjikan.
Karena kita sadar betul, kita bagian dari kaum yang terserak.
Namun, aku punya satu harapan,
Harapan yang tidak akan pernah sirna dari hati ku yang terdalam.
Bisakah aku dan ayahku kembali berkunjung ke tanah yang dijanjikan tersebut?
Atau memang, mustahil untuk sekedar berkunjung ke tanah yang dijanjikan itu?
"Lihyot am chofsi, be'artzeinu".
"Eretz Tzion Yerushalayim".
Menjadi orang yang merdeka di tanah sendiri.
Tanah Zion dan Yerusalem.
Hanya Tuhan yang tahu semuanya.
Komentar
Posting Komentar